Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Balita Dengan Diagnosa ISPA Bukan Pneumonia di Puskesmas Bogor Timur

Penulis Sudrajat Sugiharta, Febrian Hevike Filosane, Haviana
Publisher Jurnal Inkofar
Nomor ISSN 2581-2920

Sari

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak – anak dan balita. Salah satu penyakit ISPA adalah ISPA bukan pneumonia. Berdasarkan rekomendasi WHO (World Health Organization) penanganan ISPA bukan pneumonia pada balita cukup dengan pengobatan supportif dan tidak perlu pemberian antibiotik. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik di tiap Puskesmas, dimana penggunaan antibiotik di tiap Puskesmas mempunyai indikator kesalahan dari peresepan antibiotik tersebut yaitu ≤ 20 %. Berdasakan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pasien balita dengan penyakit ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian desktriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis dan resep obat. Pengambilan data secara prospektif dan diperoleh 223 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISPA bukan pneumonia banyak terjadi pada umur > 1 tahun  – ≤ 3 tahun yaitu 42,22 %, dengan jenis kelamin laki – laki terbanyak yaitu 54,26 %, tanda dan gejala yang dialami oleh pasien yaitu batuk dan pilek dengan data sebesar  49,33 %. Diagnosa dan jenis penyakit yang dialami pasien yaitu ISPA bukan pneumonia 81,33 %, faringitis 15,11 %, dan common cold 8,56 %. Persentase penggunaan antibiotik mencapai 18,83% meski persentase  mendekati angka indikator namun hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian masih memenuhi standar indikator kesalahan penggunaan antibiotik yaitu ≤ 20%.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi

[CDC] Centers For Disease Control and Prevention.2003.Outbreaks.Of Severe Acute Respiratory Virus.worldwide.MMWR 2003 ; 52 ; 226 – 8.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI,2007.Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA Untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita.Jakarta : Dit.Jen.PPM-PLP.

[Dinkes] Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. 2011.Instrumen Akreditasi Puskesmas. Tim Akreditasi Puskesmas. Jawa Barat.

[Kemenkes] Kementerian Kesehatan RI. 2011. Modul Penggunaan Obat Rasional. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia .

[Kemenkes] Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik.Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Sutrisna B.2003. Efek Pemberian Ampisilin Terhadap ISPA Non Pneumonia Pada Balita Kekurangan Gizi. didalam : Abd.Harist musgany. Perpustakaan Universitas Indonesia:Jakarta. Diakses dari http://www.digilibUI.ac.id/opac/themes/libriz/detail.jsp?id=80058.

BMJ Group. 2009. British National Formulary For Children. London.

Gunawan. 2011. Farmakologi dan Terapan edisi ke lima. Jakarta : FKUI.

Katzung BG. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 8. Diterjemahkan oleh bagian farmakologi fakultas kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta: Universitas Indonesia.

Mareta, A. 2013. Skripsi :Pola Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak Dengan Diagnosa ISPA di Instalasi Rawat Jalan RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan Januari 2012 – Desember 2013.Bogor : STTIF.

Napitupulu D, Nuryadin A, Hikmawati P.2004. Prevalensi ISPA pada Balita Serta FaktorFaktor yang Berhubungan di RW 02 Kelurahan Rawasari Jakarta Pusat, Maret 2004. Tugas Program Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Junior Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta.

Nasution K, Syafrullah MAR,dkk. 2005. Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Balita di Daerah Urban Jakarta.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta.

Neal, MJ. 2006.Medical Pharmacology at a Glance. Edisi 5.Penerbit Erlangga.h.81.

Sikolia DN, Mwololo K, Cherop H.2002. The Prevalence Of Acute Respiratory Infections and The Associated Risk Factors: A Study of Children Under Five Years of Age in Kibera Lindi Village, Nairobi, Kenya. J Natl Inst Public Health 2002;51:67-72.

Tritunggariani T. 2011.Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Ketidakrasionalan Penggunaan Obat Pada ISPA Bukan Pneumonia di Puskesmas Perawatan di Kota Bekasi tahun 2011, Jakarta : Program pascasarjana Universitas Indonesia program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.

World Health Organization.WHO.2007. Pencegahan dan Pengendalian ISPA yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.Organisasi Kesehatan Dunia.Jenewa.

USULAN PERANCANGAN KUISIONER PENILAIAN KINERJA TENAGA KEPENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI SWASTA DENGAN METODE 360 DEGREE FEEDBACK

Penulis Fransisca Debora , Zulfa Fitri Ikatrinasari
Publisher Jurnal Inkofar
Nomor ISSN 2581-2920

Sari

Metode 360 degree feedback merupakan penilaian yang dapat memberikan umpan balik kinerja dari diri sendiri, atasan, bawahan, dan rekan kerja. Hasil dari penerapan kinerja ini dapat menjadi sistem monitoring dan evaluasi bagi pihak kepegawaian dan pegawai terkait untuk mengembangkan dan menetapakan target kerja dan penentuan penghargaan (reward). Pada metode 360 degree feedback ini ditemukan juga penghambat dimana akan munculnya penilaian internal antar pegawai.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi

Aguinis, H. (2008). Performance Managament. 2nd., New York, NY : Prentice Hall

Dessler, Gary. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi ke-7, Alih Bahasa, Jilid 1 & Jilid 2, Prenhallindo, Jakarta

Ginting, Abadi dan Eka Fachrizal. (2013). Penilaian Kinerja Karyawan dengan Menggunakan Metode 360 Degree Feedback pada Hotel XYZ Medan. Universitas Sumatera Utara : Medan

Ikafitrinasari, Zulfa Fitri,. (2018). Performance Management and Employee Development Performance Managemen Skill (Modul Perkuliahan), Universitas Mercu Buana : Meruya, Jakarta Barat

Ramdhaniah, Chici, dan Irsutami. (2011). Pengembangan Pengukuran Kinerja dengan Pendekatan Balance Score Card (Studi Kasus pada Politeknik Negeri Batam). Batam

Spencer, M. Lely & Signe. (1993). Competence At Work. Models for Superior Performance John Wiley & Sons Inc.

Stoner, James, A.F., Freeman Edward and Daniel Gilbert. 1996. Manajemen. Alih Bahasa. Jilid 1 & Jilid 2. Simon & Schuster (Asia Pte. Ltd). Jakarta

Tanggung Jawab Industri Farmasi Terhadap Penerapan Aturan Tentang CPOB

Penulis Tisa Amalia
Publisher Jurnal Inkofar
Nomor ISSN 2581-2920

Sari

Begitu pentingnya obat dalam hidup manusia sehingga dalam pembuatannya pun obat harus memenuhi kriteria efficacy, safety, dan quality. Kriteria tersebut harus terpenuhi mulai dari pembuatan, pendistribusian hingga penyerahan obat ke tangan konsumen harus diperhatikan agar kualitas obat tersebut tetap terjaga sampai pada akhirnya obat tersebut dikonsumsi oleh pasien. Pada tahap pembuatan obat, pemerintah sudah membuat suatu pedoman (guideline) yaitu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) agar obat dapat memenuhi ketiga kriteria obat yang sudah disebutkan diatas. Penerapan CPOB dalam industri farmasi bertujuan untuk memastikan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaannya. Aspek yang diatur dalam CPOB meliputi Manajemen Mutu, Personalia, Bangunan Dan Fasilitas, Peralatan, Sanitasi Dan Higiene, Produksi, Pengawasan Mutu, Inspeksi Diri,Audit Mutu Dan Audit & Persetujuan Pemasok, Penanganan Keluhan Terhadap Produk Dan Penarikan Kembali Produk, Dokumentasi, Pembuatan Dan Analisis Berdasarkan Kontrak, Kualifikasi Dan Validasi. Salah satu industri farmasi yang ada di wilayah Cikarang Kabupaten Bekasi adalah PT. Pharma Laboratories, senantiasa melakukan upaya peningkatan kesehatan masyarakat dengan memproduksi obat yang aman, efektif dan bermutu dengan harga terjangkau dan menerapkan CPOB dalam seluruh proses produksinya. PT. Pharma Laboratories juga telah memiliki sertifikat CPOB.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi

BPOM, 2012. Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik Guidelines On Good Manufacturing Practices, Jakarta

Ronny Hanitijo Soemitro, 1990.Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta

Soerjono Soekanto, 1986.Pengantar Penelitian Hukum, UI PRESS, Jakarta

Sugiyono, 2007. Statistika Untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.04.1.33.12.11.09937 Tahun 2011 Tentang Tata Cara Sertifikasi Cara Pembuatan Obat Yang Baik ( Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 397 )

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK. 03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik ( Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 122 )

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi

Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063)

Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5044 )

Industri Farmasi Halal : Potensi Ayam, Ikan, dan Rumput Laut sebagai Bahan Dasar Cangkang Kapsul Halal

Penulis Nindya Sekar Mayuri, Rosiana Dwy Setianingsih

Publisher PROSIDING CALL FOR PAPER ADIWIDYA 5 KAMIL PASCASARJANA ITB 2017

 

Sari

Industri farmasi di Indonesia menggunakan gelatin sebagai bahan dasar dalam pembuatan cangkang kapsul. Beberapa produk kesehatan seperti obat, vitamin, dan jamu banyak menggunakan kapsul sebagai media untuk membungkus bahan tersebut. Indonesia masih mengimpor gelatin dari negara-negara yang tidak mementingkan kehalalan suatu produk. Kebanyakan gelatin impor tersebut diperoleh dari babi. Umat muslim diharamkan untuk mengkonsumsi babi, untuk itu perlu dilakukan upaya untuk meniadakan penggunaan babi dalam cangkang kapsul. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti gelatin babi dengan gelatin ikan dan ayam. Bagian yang sangat berpotensi dijadikan gelatin adalah bagian tulang, kulit, dan kaki ayam serta kulit, tulang, sisik, dan sirip ikan. Bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang pengolahannya belum dilakukan secara optimal, padahal masih memiliki potensi untuk diekstraksi gelatinnya. Selain gelatin, bahan lain yang dapat digunakan dalam pembuatan cangkang kapsul adalah karagenan yang dihasilkan dari rumput laut. Ekstraksi gelatin ayam dan ikan dapat dilakukan dengan pemberian larutan asam (asam sulfat, asam sitrat, asam klorida, dan asam asetat) dan pemanasan pada suhu 45-55 ºC, sedangkan ekstraksi karagenan dari rumput laut dapat dilakukan dengan menggantikan pelarut air dengan larutan basa (kalium hidroksida). Cangkang kapsul karagenan dengan kualitas yang baik dapat dibuat dengan mengurangi penggunaan gliserin. Dengan menggunakan metode yang tepat, maka hasil cangkang kapsul yang dibuat dari gelatin ayam dan ikan, serta karagenan rumput laut memiliki kualitas yang baik dan halal.

Teks Lengkap

PDF

Referensi

Abdullah, MSP, Noordin, MI, Ismail, SIM, Nyamathulla, S, Jasamai, M, Wai, LK, Mustapha, MN & Shamsuddin, AF 2016, ‘Physicochemical Evaluation and Spectroscopic Characterisation of Gelatine from Shank and Toes of Gallus gallus domesticus’, Sains Malaysiana, vol.45, no.2, pp. 435–449.

Abustam, E, Ali, H., Said, MI & Likadja, JCh 2008, ‘Sifat Fisik Gelatin Kulit Kaki Ayam Melalui Proses Denaturasi Asam, Alkali Dan Enzim’, Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner 2008, pp.724-729.

Aisyah NM, Nurul, H, Azhar, ME & Fazilah, A 2014, ‘Poultry as an Alternative Source of Gelatin’, Health and the Environment Journal, vol.5, no.1, pp. 37-49.

Badr,HM 2005, ‘Chemical Properties Of Chicken Musles And Skin As Affected By Gamma Irradiation And Refrigerated Storage’, Journal of Food Technology, vol. 3, no.1, pp. 1-9.

Badan Pusat Statistika 2017, Rata-Rata Konsumsi per Kapita Seminggu Beberapa Macam Bahan Makanan Penting, 2007-2015, dilihat 22 Agustus 2017, <https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/950>

Campo, VL, Kawano, DF, Silva Júnior, DB & Ivone, CI 2009,’ Carrageenans: Biological Properties, Chemical Modifications and Structural Analysis’, Carbohydrate Polymers, vol. 77, pp. 167-180.

Distantina, S, Fadilah, Rochmadi, Fahrurrozi,M & Wiratni 2010, ‘Proses Ekstraksi Karagenan Dari Eucheuma Cottonii’, Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses, pp. 1-26.

Darmokoesoemo, H, Pudjiastuti, P, Rahmatullah, B, & Kusuma, HR 2017, ‘Novel Drug Delivery Carrier From Alginate-Carrageenan And Glycerol As Plasticizer’, Results in Physics,vol. 7, pp. 2979 – 2989.

Ega, L, Lopulalan, CGC & Meiyasa, F 2016, ‘Kajian Mutu Karaginan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Sifat Fisiko-Kimia pada Tingkat Konsentrasi Kalium Hidroksida (KOH) yang Berbeda’, Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, vol. 5, no. 2, pp. 38 – 44.

Fehng, SPC 2016, ‘Extraction Of Collagen From Fish Wastes, Optimization And Characterization’ Dissertation, Universiti Tunku Abdul Rahman, Malaysia.

Gelatin Manufacturers Institute of America (GMIA) 2012, Gelatin Handbook, dilihat 22 Agustus 2017, <www.gelatin-gmia.com/images/GMIA_Gelatin_Manual_2012.pdf>

Hue, CT, Hang, NTM & Razumovskaya, RG 2017, ‘ Physicochemical Characterization of Gelatin Extracted from European Perch (Perca fluviatilis) and Volga Pikeperch (Sander volgensis) Skins’, Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, vol.17, pp. 1117-1125.

Herawati, D 2015. Mengapa Cangkang Kapsul Harus Sertifikasi Halal?, dilihat 14 September 2017 <https://Www.Unisba.Ac.Id>

Hudha,MI, Sepdwiyanti,R & Sariekstraksi,SD 2012, ‘ Karaginanm Dari Rumput Laut (Eucheuma Spinosum) Dengan Variasi Suhu Pelarut Dan Waktu Operasi’, Berkala Ilmiah Teknik Kimia, vol.1 no.1, pp.17-21.

Jayathilakan, K, Sultana,K, Radhakrishna,K & Bawa, A S 2012, ‘Utilization Of Byproducts And Waste Materials From Meat, Poultry And Fish Processing Industries: A Review’. Journal Food and Science Technology, vol. 49 no.3, pp. 278-293.

Junianto, Haetami, K & Maulina, I 2013, ‘Karakteristik Cangkang Kapsul Yang Terbuat dari Gelatin Tulang ikan’, Jurnal Akuatika, vol.4 no.1, pp. 46-54

Kasim, S 2013, ’Pengaruh Konsentrasi Natrium Hidroksida terhadap Rendemen Karaginan yang Diperoleh dari Rumput Laut Jenis Eucheuma spinosum Asal Kota Bau-Bau’. Majalah Farmasi dan Farmakologi, Maret 2013, pp. 1-7

Kementrian Kesehatan Republik Inodnesia (KEMENKES RI) 1994, Persyaratan Obat Tradisional, KEMENKES: Jakarta.

LPPOM MUI 2017, ‘Daftar Produk Halal LPPOM MUI Update Maret 2017’, Panduan Belanja Produk Halal, November-Desember 2017.

Manimaran,V 2017, Unit II : Capsules. SRM University : India

Mappiratu 2009, ‘Kajian Teknologi Pengolahan Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma Cottonii Skala Rumah Tangga’, Media Litbang Sulteng, vol.2, no.1, pp.01 – 06

Malde,MK, Graff, IE, Siljander-Rasi, H, Venalainen, Julshamn, E, Pedersen, JI & Valaja, J 2010, ‘Fish Bones – A Highly Available Calcium Source For Growing Pigs, Journal of Animal Physiology and Animal Nutrition, pp. 1-11

Miskah,S., Ramadianti, IM, Hanif, AF 2010, ‘Pengaruh Konsentrasi CH3COOH & HCL Sebagai Pelarut Dan Waktu Perendaman Pada Pembuatan Gelatin Berbahan Baku Tulang/Kulit Kaki Ayam’, Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 17, pp.1-6

Panggah, 2017, Rumput Laut Dikembangkan, dilihat 14 September 2017, <http://www.kemenperin.go.id/>

Puspawati ,NM, Simpen, IN & Suciptawati, NLP 2014, ‘Karakteristik Sifat Fisiko Kimia Gelatin Halal Yang Diekstrak Dari Kulit Ayam Broiler Melalui Variasi Suhu’, JURNAL KIMIA, vol.8, no.1, pp. 127-136.

Rachmania, RA, Nisma, F & Mayangsari, E 2013. ‘Ekstraksi Gelatin Dari Tulang Ikan Tenggiri Melalui Proses Hidrolisis Menggunakan Larutan Basa’, Media Farmasi, vol 10. no.2, pp. 18-28

Rabadiya, B & Rabadiya, P 2013, ‘A Review : Capsule Shell Material From Gelatin To Non Animal Origin Material’, International Journal of Pharmaceutical Research And BioScience, vol.2, no.3,pp. 42-71

Suptijah, P, Suseno, SH, Kurniawati 2012, ‘Aplikasi Karagenan Sebagai Cangkang Kapsul Keras Alternatif Pengganti Kapsul Gelatin’, Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, vol. 15, no.3, pp. 223-231

Sunarma, AFF 2017, ’Potensi Industri Bubuk Tulang Ikan di Indonesia Capai Rp45 Triliun, dilihat 28 juli 2017, <http://industri.bisnis.com>

Suchý,P., Straková, E, Herzig,I, Steinhauser, L, Králik, G & Zapletal, D 2009, ’Chemical Composition Of Bone Tissue In Broiler Chickens Intended For Slaughter’, Czech Journal of Animal Science, vol.54, no.7, pp. 324-330

Silva, EVC, Lourenço, LFH, Pena, RS 2017, ‘Optimization And Characterization Of Gelatin From Kumakuma (Brachyplatystoma filamentosum) Skin’, Journal of Food, vol. 15 no.3, pp. 361-368

Webber, V, Carvalho, SM, Ogliari, PJ, Hayashi, L, Barreto, PLM 2012, ‘Optimization Of The Extraction Of Carrageenan From Kappaphycus Alvarezii Using Response Surface Methodology’, Ciência E Tecnologia De Alimentos, vol.32, no.4, pp. 812-818

Widyasari, R & Rawdkuen, S 2014, ‘Extraction And Characterization Of Gelatin From Chicken Feet By Acid And Ultrasound Assisted Extraction’, Food and Applied Bioscience Journal, vol.2, no. 1, pp. 85-97

Yasita , D, & Rachmawati, DI 2009, Optimasi Proses Ekstraksi Pada Pembuatan Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma Cottoni Untuk Mencapai Foodgrade. In: “Seminar Tugas Akhir S1 Teknik Kimia Fak.Teknik Undip “, Jurusan Teknik Kimia Fak. Teknik Undip. (Unpublished)

Zakaria, S & Bakar, NHA 2015, ‘Extraction And Characterization Of Gelatin From Black Tilapia (Oreochromis Niloticus) Scales And Bones’ International Conference on Advances in Science, Engginering, Technology, and Natural Resources, pp.77-80